Konfirmasi Langsung dari Pihak TNI Terkait Ledakan BOM di Gereja Intan Jaya Papua
Jakarta - Lintasinvestigasiindonesia.com- Insiden ledakan diduga bom udara menggunakan pesawat tanpa awak atau drone terjadi di Gereja Stasi Santo Paulus Nabuni Mbamogo, Paroki Bilogai, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Peristiwa yang dilaporkan terjadi pada Minggu, 17 Mei 2026 tersebut memicu kepanikan luar biasa dan menyebabkan sejumlah warga sipil terluka.
Aparat TNI telah memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan informasi yang beredar di masyarakat terkait insiden maut ini. Berikut adalah fakta-fakta sementara yang berhasil dihimpun mengenai tragedi ledakan di halaman rumah ibadah tersebut:
1. Bom Dijatuhkan di Halaman Gereja Saat Umat Berkumpul
Ledakan keras dilaporkan terjadi di area halaman gereja pada Minggu siang sekitar pukul 12.15 WIT. Peristiwa ini terjadi tepat saat umat Katolik setempat masih berkumpul di halaman setelah selesai mengikuti ibadah Misa Minggu pagi. Bahan peledak jenis granat diduga kuat dijatuhkan dari udara menggunakan sebuah drone yang dikendalikan dari jarak jauh. Sesaat setelah menjatuhkan muatan granat tersebut, pesawat tanpa awak itu terlihat langsung terbang menjauh dari area gereja.
2. Empat Warga Sipil Mengalami Luka Serius
Serangan udara tersebut mengakibatkan empat orang umat yang berada di halaman gereja mengalami luka-luka akibat terkena serpihan ledakan. Dua korban langsung dievakuasi ke RSUD Pratama Intan Jaya pada hari kejadian, sedangkan dua korban lainnya menyusul dibawa pada Senin, 18 Mei 2026 pagi.
Empat korban yang telah teridentifikasi tersebut masing-masing bernama Pit Pogau, Robert Nabelau, Pius Pogau, dan Piter Nabelau. "Sementara identitas korban lainnya masih dalam proses pendataan karena situasi keamanan di lokasi belum kondusif,” kata Dekan Imam Dekanat Moni-Puncak, Pastor Yanuarius Yance Wadogaudi Yogi.
3. Kepanikan Massal Membuat Warga Mengungsi
Dampak dari ledakan bom di halaman tempat ibadah tersebut seketika memicu kepanikan massal bagi warga yang berada di sekitar lokasi kejadian. Sejumlah masyarakat yang ketakutan dilaporkan langsung melarikan diri ke dalam kawasan hutan lebat untuk menyelamatkan diri mereka. Sementara itu, sebagian warga lainnya memilih mengungsi ke wilayah Sugapa guna mencari perlindungan keamanan yang lebih terjamin.
4. TNI Bantah Kepemilikan Granat dan Penggunaan Drone
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M Wirya Arthadiguna, membantah keras tuduhan bahwa pihaknya merupakan pelaku pengeboman tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, karakteristik granat yang ditemukan di lokasi dipastikan tidak sesuai dengan standar milik institusi TNI. TNI tidak menggunakan drone bersenjata untuk menyerang warga sipil, apalagi di area ibadah," tegas Letkol Inf M Wirya Arthadiguna dalam keterangan resminya, Senin malam. Ia menambahkan bahwa dalam setiap operasinya, TNI selalu mengedepankan pendekatan keamanan yang humanis serta bertujuan melindungi masyarakat Papua.
5. Dugaan Aksi Provokasi dan Sinergi Penanganan Korban
Pihak militer menduga kuat bahwa insiden ledakan ini merupakan aksi provokasi sengaja dari kelompok tertentu.Aksi keji ini disinyalir bertujuan untuk memecah belah hubungan baik dan kepercayaan antara institusi TNI dengan masyarakat Papua. Satgas Koops Habema kini mengintensifkan patroli serta pengamanan di wilayah Intan Jaya untuk mencegah terjadinya aksi teror serupa. “Kami juga telah berkoordinasi dengan pihak gereja dan tokoh masyarakat setempat untuk memberikan bantuan yang diperlukan kepada para korban,” pungkas Wirya.